News Ticker
Home » Adat Istiadat Batak » Rumah Khas Batak Karo Terancam Punah
Rumah Khas Batak Karo Terancam Punah

Rumah Khas Batak Karo Terancam Punah

Salah satu bagian dari suku batak :

SUKU Karo masih bisa berbangga karena rumah tradisional siwaluh jabu yang dihuni 8 atau 12 kepala keluarga, masih dipertahankan di lima desa di kabupaten Karo. Tiga atau lima tahun lagi kebanggaan itu mungkin tak ada lagi, karena rumah buatan nenek moyang yang tinggal sekitar 30 unit lagi, bisa mengalami nasib seperti rumah tradisional suku Batak lain di Sumatera Utara yang hilang tak berbekas.
Kebanggaan akan rumah tradisional itu karena dua hal: keunikan teknik bangunan dan nilai sosial-budayanya. Keunikan teknik bangunannya: rumah berukuran minimal 10 x 30m (300 m2) itu dibangun tanpa paku dan ternyata mampu bertahan hingga 250 tahun lebih. Sedang keunikan nilai sosial-budayanya: kehidupan berkelompok dalam rumah besar yang dihuni 8 kepala keluarga (KK) atau sekitar 50 jiwa. Khusus di Desa Serdang Kecamatan Barusjahe malah ada rumah adat Karo yang dihuni 12 KK. Batas antara satu keluarga dengan yang lain ditandai tirai kain panjang.

Rumah kayu ini tak dilengkapi kamar tidur dan ruang tamu. Semua anggota keluarga tidur di jabu atau ruangan tanpa penyekat. Khusus untuk bapa (bapak) dan nande (ibu) diberi penyekat berupa kain panjang yang setiap pagi dilepas. Ruangan tadi berfungsi ganda: tempat memasak, tempat makan dan berkumpul, sekaligus tempat tidur keluarga. Karena tidak ada pemisah ruangan, maka pada setiap jam masak, semua ruangan dipenuhi asap kayu bakar yang dipakai sebagai bahan bakarnya. Kecilnya ukuran pintun perik alias jendela juga tak membantu pertukaran udara di dalam rumah sehingga kepengapannya sangat menyesakkan dada.

Rumah adat ini umumnya dilengkapi empat dapur. Masing-masing dapur memiliki dua tungku untuk dua keluarga yang biasanya mempunyai hubungan kekerabatan sangat erat. Setiap tungku dapur menggunakan lima batu sebagai pertanda bahwa di suku Karo terdapat lima merga yakni Ginting, Sembiring, Tarigan, Karo-karo dan Perangin-angin. Di atas tungku terdapat para, tempat menyimpan bumbu dan ikan atau daging selain untuk rak piring dan tempat menyimpan segala sesuatu untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

Di bagian depan dan belakang rumah terdapat ture seperti teras dilengkapi redan atau tangga. Kedua ujung atap masing-masing dilengkapi dua tanduk kerbau. Tanduk itu diyakini sebagai penolak bala. Ture biasanya menjadi tempat muda-mudi mengawali percintaannya. Gadis Karo dahulu kala menganyam tikar atau mbayu amak di atas tempat ini, sebelum menemukan jodoh.

Rumah berbentuk panggung dan beratap ijuk ini memiliki dua pintun (pintu) dan delapan jendela (lihat gambar). Ruangan setiap keluarga disebut jabu. Sedangkan kolong rumah dimanfaatkan sebagai kandang ayam, **** serta tempat menyimpan kayu bakar.

MENURUT cerita orang-orang tua, ratusan tahun lalu Desa Lingga, Kecamatan Simpangempat, merupakan cikal bakal serta pusat pemerintahan suku Karo. Saat itu Lingga dipimpin seorang raja yang disebut Sibayak Lingga. Ia membangun rumah pertemuan dan rumah tempat tinggal warganya, yang tiang penyangga, dinding, dan beberapa bagian atas, terbuat dari kayu bulat.

Dulu, di seluruh desa di Tanah Karo terdapat rumah adat berukuran paling kecil 10 x 30 meter, dilengkapi atau gedung pertemuan tokoh masyarakat. Kompleks ini juga dilengkapi bangunan bernama geriten yang terbagi dua: satu untuk tempat kencan muda-mudi dan sebuah lagi untuk menyimpan tengkorak pemilik geriten.

Ketika Belanda menjajah negeri ini, warga Karo sengaja membumihaguskan rumah dan hartanya, agar rumah mereka tidak dimanfaatkan Belanda.

Maka, kini tingal Desa Lingga, Peceren, Serdang, Barusjahe dan Dokan yang mempunyai rumah adat pertanda kebesaran nenek moyang suku Karo.

KEUNIKAN arsitektur siwaluh jabu menarik wisatawan, sebab jarang rumah dibangun tanpa paku bisa berusia ratusan tahun. Besarnya minat wisatawan mancanegara melihat keunikan rumah siwaluh jabu membuat Pemda Karo menetapkan beberapa desa di Tanah Karo menjadi desa budaya. Desa budaya itu: Lingga, Dokan, Serdang, Barusjahe dan Peceren yang tahun 1992 lalu masih memiliki sekitar 50 rumah. Tahun itu juga pihak Deparpostel merenovasi dua rumah siwaluh jabu di Lingga dengan biaya tak kurang Rp 50 juta. Sayangnya uluran tangan pemerintah itu tidak berkesinambungan. Maka semakin hari, rumah siwaluh jabu di desa budaya tersebut terus berkurang dan kini tinggal sekitar 30 unit. Pemilik maupun warga desa setempat tak mampu merawat rumah peninggalan nenek moyangnya itu.

Pemilik rumah siwaluh jabu juga cenderung membangun rumah sendiri di tempat lain. Tidak zamannya lagi hidup bersama dengan delapan keluarga dalam satu rumah. Kini rumah tradisional masyarakat Karo terlantar dan menanti ajal. Beberapa rumah adat itu telah dipenuhi semak belukar.

Tanggung jawab memang tak sepenuhnya di tangan pemerintah. Warga sebagai pemilik rumah tua itu juga harus bersedia mempertahankan keberadaan rumah itu. Memang sekarang banyak suku Karo baik di Tanah Karo maupun di kota lain seperti Jakarta membangun rumah berornamen rumah siwaluh jabu yang umumnya hanya mengambil bagian atasnya saja. Sekadar ingin tahu bentuknya saja, di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta berdiri sebuah rumah siwaluh jabu.

Komentar Disini:

Loading Facebook Comments ...

Satu komentar

  1. Save rumah batak!!!

Berikan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Item yang ditandai harus diisi *

*

Scroll Ke Atas

www.komunitas-batak.com

H-O-R-A-S!

Jika Anda terbantu dengan adanya situs ini, mohon Klik LIKE atau follow kami dibawah ini!