News Ticker
Home » Adat Istiadat Batak » Asal Usul » Bona Pasogit
Bona Pasogit

Bona Pasogit

Bona Pasogit adalah kosakata Batak yang berarti kampung halaman. Kampung halaman sendiri, sering diartikan sebagai daerah tempat kelahiran.Namun buatku, istilah itu berbeda arti. Aku lahir di Tanah Karo. Menjalani sekolah dasar sampai kelas tiga di sana. Melanjutkan kelas empat hingga lulus perguruan tinggi, aku mengikuti orangtua di kota Medan.

Dengan kenyataan demikian, sebagaimana pernah aku tulis, kota Medan lah kampung halamanku. Namun sebagai keturunan dari si Raja Batak, tentu saja aku memiliki ikatan emosional khusus dengan wilayah Tapanuli. Daerah dimana keturunan si Raja Batak awalnya bermukim, sebelum akhirnya berpindah ke ragam penjuru.

Ikatan emosional itu pulalah yang membuatku senantiasa belajar segala sesuatu tentang Tapanuli. Belajar segala sesuatu mengenai adat dan budaya Batak. Meski tidak dilahirkan di Tapanuli, beberapa kali, aku pernah ke Tapanuli. Secara geografi, wilayah Tapanuli terbilang kaya. Beberapa wilayah diantaranya terkenal sebagai penghasil tanaman bernilai ekonomi tinggi. Belakangan, beberapa wilayah lain, memiliki kandungan mineral yang tak kalah ternilai.

Secara demografi, penduduknya juga terkenal bicara lugas, apa adanya. Beberapa pernah menjadi pemimpin di negara ini. Sementara puluhan tahun sebelumnya, seorang puteranya mendapat gelar Pahlawan Nasional, karena sifat heroiknya menentang penjajahan yang dialami Tapanuli. Sayangnya, entah kenapa, beberapa tahun lalu wilayah ini sempat mendapat julukan tak sedap. Sebagai daerah miskin.Bukan saatnya membahas, mengapa hal tersebut bisa terjadi. Buatku, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu agar gambaran tidak terlalu bagus mengenai Tapanuli, segera berubah.

Alasan itulah yang terpikir, ketika seorang pengarang sekaligus penerbit buku mengumumkan terbitnya buku baru karangannya. Dalam diskusi di dinding facebook beliau, terlontar ide bagaimana jika buku yang beliau terbitkan bisa dibaca oleh pelajar di Bona Pasogit. Dari diskusi yang berkembang, tercetus semacam gerakan untuk patungan dan bahu membahu mewujudkannya. Ide yang segera direspon baik oleh sang penulis. Ini memang langkah kecil dan mungkin tak berarti apa apa bagi perubahan Tapanuli. Namun, untukku sendiri, gerakan memberi bahan bacaan, merupakan langkah awal gerakan mengubah gambaran yang kurang bagus mengenai Tapanuli.

Oleh karenanya, jika ada yang tertarik, silahkan melihat halaman pengarangnya disini. Dan mengambil bagian dalam langkah kecil itu.

.Namun buatku, istilah itu berbeda arti. Aku lahir di Tanah Karo. Menjalani sekolah dasar sampai kelas tiga di sana. Melanjutkan kelas empat hingga lulus perguruan tinggi, aku mengikuti orangtua di kota Medan.

Dengan kenyataan demikian, sebagaimana pernah aku tulis, kota Medan lah kampung halamanku. Namun sebagai keturunan dari si Raja Batak, tentu saja aku memiliki ikatan emosional khusus dengan wilayah Tapanuli. Daerah dimana keturunan si Raja Batak awalnya bermukim, sebelum akhirnya berpindah ke ragam penjuru.

Ikatan emosional itu pulalah yang membuatku senantiasa belajar segala sesuatu tentang Tapanuli. Belajar segala sesuatu mengenai adat dan budaya Batak. Meski tidak dilahirkan di Tapanuli, beberapa kali, aku pernah ke Tapanuli. Secara geografi, wilayah Tapanuli terbilang kaya. Beberapa wilayah diantaranya terkenal sebagai penghasil tanaman bernilai ekonomi tinggi. Belakangan, beberapa wilayah lain, memiliki kandungan mineral yang tak kalah ternilai.

Secara demografi, penduduknya juga terkenal bicara lugas, apa adanya. Beberapa pernah menjadi pemimpin di negara ini. Sementara puluhan tahun sebelumnya, seorang puteranya mendapat gelar Pahlawan Nasional, karena sifat heroiknya menentang penjajahan yang dialami Tapanuli. Sayangnya, entah kenapa, beberapa tahun lalu wilayah ini sempat mendapat julukan tak sedap. Sebagai daerah miskin.Bukan saatnya membahas, mengapa hal tersebut bisa terjadi. Buatku, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu agar gambaran tidak terlalu bagus mengenai Tapanuli, segera berubah.

Alasan itulah yang terpikir, ketika seorang pengarang sekaligus penerbit buku mengumumkan terbitnya buku baru karangannya. Dalam diskusi di dinding facebook beliau, terlontar ide bagaimana jika buku yang beliau terbitkan bisa dibaca oleh pelajar di Bona Pasogit. Dari diskusi yang berkembang, tercetus semacam gerakan untuk patungan dan bahu membahu mewujudkannya. Ide yang segera direspon baik oleh sang penulis. Ini memang langkah kecil dan mungkin tak berarti apa apa bagi perubahan Tapanuli. Namun, untukku sendiri, gerakan memberi bahan bacaan, merupakan langkah awal gerakan mengubah gambaran yang kurang bagus mengenai Tapanuli.

Oleh karenanya, jika ada yang tertarik, silahkan melihat halaman pengarangnya disini. Dan mengambil bagian dalam langkah kecil itu.

Sumber: http://www.facebook.com/saut.p.tambunan

Komentar Disini:

Loading Facebook Comments ...

Berikan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Item yang ditandai harus diisi *

*

Scroll Ke Atas

www.komunitas-batak.com

H-O-R-A-S!

Jika Anda terbantu dengan adanya situs ini, mohon Klik LIKE atau follow kami dibawah ini!